Keselamatan Diri Terletak pada Lisan







“ Dan
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan telah mengetahui apa-apa yang
dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya,
(yaitu) ketika kedua malaikat mencatat amal perbuatannya, satu duduk di sebelah
kanan, dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang
diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu
hadir. ”
(Q.S. Qaaf : 16-18)





Pepatah
mengatakan diam itu emas, Luqmanul
Hakim
dalam kata-kata hikmahnya mengatakan: “ Diam adalah
ke-bijaksanaan tetapi sedikit sekali orang yang melakukannya. ”





Rasulullah
SAW bersabda : “Berbahagialah
orang yang dapat menahan kelebihan lisan-nya dan menginfakkan kelebihan
hartanya. ”
(HR. Al Baihaqi, Al Baghawi dan Ibnu Qani’) 





Jika ada yang
bertanya, apa sebabnya diam memiliki keutamaan demikian besar?, maka ketahuilah
bahwa sebabnya adalah banyaknya penyakit lidah yang dapat membahayakan
pemiliknya baik di dunia lebih-lebih lagi di akhirat kelak.





Penyakit
lidah yang begitu banyak sangat mudah dan ringan sekali meluncur dari lidah
seseorang, bahkan si pemilik lidah jarang sekali mampu menahan lidahnya.
Keterlibatan dalam berbagai penyakit lidah berbahaya bagi seseorang. Sedangkan
diam adalah jalan keselamatan. Oleh sebab itu keutamaan diam sangatlah besar.





Dalam diam
terkandung kewibawaan, konsentrasi, untuk berfikir, berzikir dan beribadah.
Lebih dari itu bahwa diam dapat menyelamatkan seseorang dari berbagai tanggung
jawab perkataan di dunia maupun hisabnya di akhirat kelak.





Lidah
memiliki kewajiban dan larangan. Ibnu Al Azraq di dalam kitabnya Badaa’i’u
As Saalik
menyebutkan “ada lima puluh kewajiban utama lidah, di
antaranya adalah: berdakwah di jalan Allah, menyatakan yang haq, membaca Al
Qur’an, berzikir, berdoa, membaca shalawat atas Nabi SAW, mengucapkan salam dan
menjawabnya, mengajarkan ilmu pengetahuan, mengampaikan nasehat, berkata jujur,
beramar ma’ruf dan nahi munkar, dan sebagainya”. 





Ibnu Al Azraq
juga menyebutkan dalam kitabnya Badaa’i’u As Saalik sembilan puluh empat
larangan lidah. Di antaranya adalah: “ghibah, bersumpah palsu, menghukum
dengan apa yang tidak ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, berdusta, bersaksi palsu,
berkata keji, mencaci kedua orang tua, mencaci maki orang lain, menghardik anak
yatim, dan fakir miskin, melaknat makhluk Allah, membuka aib orang lain,
menceritakan aib dan rahasia keluarga atau suami istri dan sebagainya”.


Imam Al
Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin  sebagaimana yang dikutip oleh Syeikh Said
bahwa dalam kitabnya al Mustakhlish  Tazkiyatil Anfus menyebutkan dua puluh
macam penyakit lidah di antaranya adalah: “ngobrol ngalor ngidul” tanpa
tujuan yang bermanfaat, berbantah-bantahan, perdebatan tanpa didasari ilmu,
pertengkaran, ejekan, dan cemoohan, serta sanjungan yang berlebihan dan
sebagainya”.





Sabda
Rasulullah SAW: Dari Barra’ bin ‘Aazib ia berkata, “ Seorang Arab Badui
datang kepada Rasulullah seraya berkata : “Tunjukkan kepadaku amal
perbuatan yang dapat memasukkan diriku ke dalam sorga ”, Rasulullah SAW
bersabda : “Berilah makan orang yang lapar, berilah minum orang yang haus,
peintahkan  yang ma’ruf dan cegahlah
kemungkaran. Jika kamu tidak sanggup, maka tahanlah lidahmu kecuali dari
(berkata-kata) yang baik.” (H.R. Abu Dunya dengan sanad shahih)





Dari hadits
di atas dapat diambil kesimpulan bahwa diam bukanlah berarti kita mengunci
mulut atau bungkam seribu bahasa, Karena Allah SWT memerintahkan setiap manusia
untuk aktif menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, yang di antaranya adalah lewat
perkataan dengan lidahnya.





Rasulullah
menegaskan dalam sebuah hadits: “Ba-rangsiapa melihat kemungkaran hendaklah
ia mengatasinya dengan tangannya (kekuasaanya), jika tidak mampu dengan
lidahnya (perkataanya), jika tidak mampu juga barulah dengan hatinya dan itulah
selemah-lemah iman.”
(HR. Bukhari dan Muslim)





Marilah kita
simak ungkapan ayat-ayat Al Qur’an yang menegaskan konteks perkataan atau
pembicaraan yang baik lagi bijaksana dengan ungkapan yang beragam.





Pertama: Ayat dari firman Allah yang memakai
ungkapan “Qaulan Kariman” yaitu perkataan yang mulia yang diucapkan
kepada kedua orang tua sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Israa’ ayat 23: “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu
jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik (berbakti) kepada
ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau
dua-duanya sampai umur lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali jangan kamu
mengatakan kepada keduanya perkataan ‘Ah’ dan janganlah kamu mem-bentak mereka
dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (Qaulan Karima).” 





Kedua: ayat yang memakai ungkapan “Qaulan
Balighan”
  yaitu perkataan berkesan
dan berbekas pada jiwa, yang diucapkan kepada orang-orang munafik. Sebagaimana
firman Allah dalam surat An Nisaa’ ayat 23: “Mereka
itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka.
Karena itu berpalinglah kamu dari mereka adan berilah mereka pelajaran dan
katakanlah kepada mereka perkataan yang berkesan dan berbekas (Qaulan Balighan)
pada jiwa mereka.”





Ketiga: ayat yang memakai ungkapan “Qaulan
Layyinan
” yaitu kata-kata lemah lembut, sekalipun diucapkan kepada penguasa
yang dzalim. Hal ini tergambar dalam firman Allah SWT dalam surat Thaha
ayat 43-44 yang menceritakan tentang apa dan bagaimana Nabi Harun dan Nabi Musa
a.s ketika mengahadapi Fir’aun sang penguasa yang dzalim lagi melampaui batas:
“Pergilah kamu
berdua kepada Fir’aun sesungguhnya dia telah melampaui batas maka berbicaralah
kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut (Qaulan Layyinan).
Mudah-mudahan ia ingat atau takut.”





Shadaqallahul
‘Adzim. Allahu A’lam Bisshawab





                                                                                                                     TIM BRJ MUMTAZ

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Keselamatan Diri Terletak pada Lisan"

Posting Komentar