Penyakit Hati | Bagian Kedua : Al Israaf





“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa saja yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Q.S. Al Maidah: 87)





Dari sudut
bahasa, israaf  artinya melakukan
sesuatu tetapi tidak dalam rangka ketaatan. Dalam kitab Al Qamus Al Muhiith,
dan Ash Shihah fil Lughah wa ‘Ulum arti israaf adalah boros dan
melampaui batas.





Sedangkan
menurut istilah, israaf adalah penyakit rohani berupa perbuatan yang
melampaui batas kewajaran, baik dalam hal makan, pakaian, tempat tinggal, dan
lain sebagainya.





Faktor-faktor
penyebab israaf


Pertama:
An Nasy’ah Al Ula
(latar
belakang keluar-ga). Seorang yang dibesarkan dalam sebuah lingkungan
keluarga yang senang berlaku israaf  (boros) dan berfoya-foya maka kemungkinan
besar dirinya akan tertulari oleh penyakit tersebut.





Kedua: As
Sa’atu Ba’dad Dayiqi
(Keluasan
rezki yang diperoleh setelah kesemepitan). Manusia sering menga-lami
cobaan kesempitan rezki dan aneka kekurangan hidup lainnya, dan mereka mampu
bersikap sabar dan tabah menerima keadaan tersebut. Akan tetapi manakala mereka
dicoba oleh Allah dengan kelapangan rezeki dan kemudahan mendapatkan kesenangan
hidup, justru mereka tidak mampu lagi bersikap Tawassuh (pertengahan)
dan I’tidaal (seimbang) dalam mempergunakan harta dan kesenangan hidup
yang ada pada dirinya untuk menuju keridhaan-Nya. Sebaliknya sikap hidup mereka
berubah drastic dan berlaki israaf dan tabzir (menyia-nyiakan
harta)





Amr bin Auf
r.a meriwayatkan bahwasanya Rasul SAW bersabda: “Demi Allah, bukanlah
kefaqiran yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir jika dunia
telah dihamparkan kepada kalian sebagaimana dihamparkan kepada umat terdahulu,
kemudian kalian akan saling ber-lomba, sehingga akhirnya hal itu akan
membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.”


(HR. Bukhari dan Muslim)





Ketiga: Al
Ghaflah ‘Ala Syadaidi wa Ahwali Yaumal Qiyamah
(Lalai terhadap dahsyatnya hari kiamat)





Rasulullah
SAW bersabda: “jikalau kalian menge-tahui apa yang aku ketahui (tentang hari
kiamat dan kehidupan akhirat) niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak
menangis.” (HR. Bukhari dan Turmudzi)





Keempat :
Nisyaanul Waqi’ Allazy Tahyahul Basya-riyah ‘Umuman wal Muslimun.
(Lalai terhadap realitas yang tengah
dihadapi oleh umat manusia khususnya kaum muslimin)





Kaum muslimin
banyak yang sedang dalam kondisi yang cukup memprihatinkan, baik
ekonomi,sosial, politik,  dan yang
lainnya. Oleh karena itu, bagi mereka yang ‘beku’ perasaanya dan ‘mati’ rasa
belas kasihannya, ia akan mudah berlaku israaf tanpa ada terpikirkan
olehnya akan kondisi yang dialami oleh saudaranya yang lain.





Dampak buruk
akibat Israaf





Pertama: Timbulnya penyakit fisik. Jasmani manusia
selalu terikat dengan beberapa ketentuan dan Sunnatullah yang jika
batas-batasnya dilewati, dilanggar atau dikurangi akan dapat menyebabkan
timbulnya berbagai macam penyakit.





Kedua: Hati menjadi keras, kebekuan berfikir,
malas beribadah dan meningkatnya nafsu syahwat serta condong kepada kejahatan
dan dosa.





Ketiga: Tidak mampu menghadapi ujian dan
kesulitan.





Keempat: Lenyapnya sifat sosial dan solidaritas dengan
sesama.





Kelima: Mudah terjerumus mencari harta dengan
jalan yang haram. Rasulullah SAW bersabda : “Akan datang kepada  manusia suatu masa, dimana kala itu seseorang
tidak lagi mempedulikan darimana ia memperleh hartanya, apakah halal atau
haram.” (HR. An Nasa’i)





Keenam: Tidak
dicintai Allah. Allah SWT berfirman: “… Sesungguhnya Dia (Allah) tidak
menyukai orang-orang yang boros (berlebih-lebihan).”





Ketujuh:
Menjadi saudara syetan. Allah berfirman :








“Dan
janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya
pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithan dan syaithan itu adalah
sangat ingkar kepada Tuhannya. ” (Q.S. Al Israa’ : 26-27)





Jika
mereka sudah menjadi saudaranya syaithan, maka sudah pasti mereka akan
tergolong sebagai manusia-manusia yang merugi, sebagaimana firman Allah dalam
surat Al Mujadilah ayat 19:





“Syaithan
telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. Mereka
itulah golongan syaithan, bahwa sesungguhnya golongan syaithan itu adalah
golongan yang merugi.”


Allahu
A’lam bissawab





Sumber : Buku Aafatn ‘Ala Ath Tharieq


Karya As Syaikh DR. As Sayyid Muhammad Nuh


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Penyakit Hati | Bagian Kedua : Al Israaf"

Posting Komentar