DZalim







Allah SWT
mewahyukan kepada Nabi Daud as.: “Katakanlah kepada orang-orang yang melakukan
kezhaliman. Janganlah kalian berzikir kepada-Ku (kecuali setelah bertaubat atau
dalam usaha bertaubat) karena aku memperhatikan orang-orang yang berzikir
kepada-Ku. Tetapi perhatian-Ku kepada orang-orang (yang melakukan kezhaliman)
berupa laknat kepada mereka ”. 
(HR. Hakim dalam kitab tarikhnya, Dailami dan Ibnu ‘Asakir yang bersumber
dari Ibnu ‘Abbas r.a)





Asal makna
“zalim” ialah aniaya dan melampaui batas yang telah ditentukan. Arti “zalim”
menurut ahli bahasa dan kebanyakan ulama ialah: “Meletakkan sesuatu bukan
pada semestinya (tempatnya), baik mengurangi, menambah, mengubah waktu, tempat
dan letaknya”





Oleh karena itu kata kezaliman diartikan sebagai
penyimpangan dari ketentuan atau melakukan dosa walaupun kecil. Di dalam kitab Hadits
Qudsi
; Pola Pembinaan Akhlak Muslim karya K.H.M. Ali Utsman, H.A.A.
Dahlan & Prof. Dr. H.M.D. Dahlan (Sumber tulis banyak didasarkan atas kitab
Adabul Ahadits Al Qudsiyah yang disusun oleh Dr. Ahmad Asyibashi. Pen)
disebutkan bahwa sebagian Hukama (ahli filsafat Islam) membagi zalim
menjadi tiga bagian:





A. Kezaliman
Manusia Terhadap Allah SWT


Kezaliman
dari jenis yang terbesar adalah kufur (me-ngingkari Allah), syirik
(menyekutukan Allah), nifaq (me-nyembunyikan sikap kufur dengan
memperlihatkan seolah-olah beriman). Firman Allah dalam Al Qur’an:





وَإِذْ قَالَ
لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ
الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ





“…Janganlah
kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah
benar-benar kezaliman yang besar.” (Q.S. Luqman: 13)





B. Kezaliman
Manusia Terhadap Sesama


Yaitu berbuat
sesuatu yang menyebabkan orang lain merugi karena perbuatannya, seperti ingkar
janji, menebar fitnah karena dengki, membuat keonaran, perusakan di muka bumi
dan sebagainya. Allah berfirman:





إِنَّمَا
السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ
بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ





“Sesungguhnya
dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas
di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.” 
(Q.S. Asy Syura: 42)





Dan
orang-orang yang tidak mau bertaubat termasuk pula orang-orang yang zalim.
Sebagaimana firman Allah SWT surat Al Hujarat ayat 11.





C. Kezaliman
Manusia Terhadap Dirinya Sendiri


Sesuai dengan
firman Allah SWT :





... فَمِنْهُمْ
ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ ...





“ 
…Lalu di antara mereka ada yang menganiaya (menzalimi) diri mereka sendiri
… ” (Q.S. Faatir : 32)





Dalam kitab Anta
tasal wa Islam yujib
(Anda bertanya dan Islam menjawab, terj.)
karangan Prof. Dr. Muhammad Mutawalli Asy Sya’rawy, disebutkan bahwa yang
dimaksud menzalimi diri sendiri ialah melakukan hal-hal yang dilarang Allah
yang dapat merusak dirinya. Orang semacam ini akan mudah menurut ajakan
syaithan, misalnya mencari rezeki dengan jalan yang haram.





Hal lain yang
termasuk menzalimi diri sendiri misalnya, meminum-minuman keras (yang
memabukkan), berjudi, bezina, candu Narkoba dan sejenisnya dan lain sebagainya
yang dapat merusak dirinya, bahkan membahaya-kan keselamatan orang lain.





Seringkali
orang yang melakukan kezaliman, ber-pura-pura berzikir kepada Allah,
seolah-olah hendak menipu Allah. Padahal orang yang melakukan zikir yang
sesungguh-nya, pasti akan menghentikan kezalimannya, dan mereka akan merasa
enggan atau ngeri melakukan kezaliman. 





Orang yang seolah-olah berzikir itulah -
tanpa disadarinya – yang telah menipu dirinya sendiri.


Allah
berjanji akan selalu ingat kepada orang-orang yang senantiasa melanggengkan
zikir kepada-Nya dengan melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya. Akan tetapi orang
yang berpura-pura zikir kepada Allah disaat melakukan kezaliman atau nifaq,
Allah akan mengingatnya dengan laknat atau mengutuknya. 





Melaknat
atau mengutuk berarti mengusir dan men-jauhkan dari rahmat-Nya, serta akan
menumpahkan azab siksa-Nya kepada pezalim itu. Hal itu disebabkan perbuatan
mereka sendiri, karena Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Sebagaimana
firman Allah dalam Al Qur’an surat Yunus ayat 44:
“Sesungguhnya Allah tidak
berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang
berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.”





Bagi mereka
yang melakukan kezaliman, baik kezaliman itu terhadap Allah, terhadap sesama
atau terhadap diri mereka sendiri, Allah telah memberikan peringatan keras,
sebagaimana firman Allah yang disebutkan dalam Al Qur’an: 





“Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan)
yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itulah Kami timpakan atas
orang-orang yang zalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasiq.” 
(Q.S. Al Baqarah: 59)





“Maka tatkala
mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka. Kami selamatkan
orang-orang yang me-larang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada
orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalau berbuat
fasik.” (Q.S. Al A’raf: 165)





Menurut M.
Farid Wadji dalam Mushaf Al Mufassar – Sebagaiman yang terdapat dalam
kitab Hadits Qudsi – bahwa fasiq yang dimaksud adalah perbuatan yang
me-nyimpang dari ketentuan yang telah Allah tetapkan. Karena itu di dalam Al
Qur’an disebutkan bahwa barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut hukum
yang telah Allah tetapkan, maka mereka adalah tergolong orang-orang yang fasiq
dan zalim. (Lihat Al Qur’an surat Al Maidah ayat 44-47).





Marilah kita
hindari perbuatan, sikap dan sifat yang mengarah kepada kezaliman, karena hal
itu sangat merugikan diri kita sendiri, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari sikap dan sifat zalim, apakah zalim
terhadap Allah, zalim terhadap sesama makhluk Allah atau zalim terhadap diri
kita sendiri. 
Allahu a’lam
bissawab





Al Faier Ilaa Rabbih


Muhammad Ridho Sy


Tim Brj Mumtaz



Post a Comment for "DZalim"