Ketika Tak Ada Lagi Perang




Hasil gambar untuk 17 agustus




Merdeka...! Ya, kita memang telah merdeka, semenjak
diproklamirkannya teks proklamasi 63 tahun silam bangsa ini sudah terlepas dari
belenggu penjajahan setelah tiga setengah abad dijajah belanda dan tiga
setengah tahun dijajah Jepang, dengan perjuangan panjang dan pengorbanan yang
tak sedikit akhirnya Allah SWT mengabulkan do’a anak bangsa ini untuk dapat
hidup di alam merdeka seperti yang kita rasakan saat ini.



Pada
tahun ini kita kembali dapat merasakan gaung 17-an itu, ia telah menggema di
seantero tanah air, mulai dari pedalaman, pesisir, pegunungan, hingga ke
dusun-dusun yang nyaris tak pernah tersentuh kemajuan. Semua anak bangsa saling
berlomba merayakannya, mulai dari baca puisi, karnaval, hingga upacara-upacara.
Namun, seringkali kita lupa menyentuh ruh dan maknanya. Perayaan 17-an hanya
sebatas dimaknai penciptaan suasana ramai, meriah dan gebyar. Semangat juang
yang terkandung di dalamnya nyaris terlupakan.






Merdeka
menurut kamus besar Bahasa Indoneisa artinya bebas dari penghambaan,
penjajahan, dll; berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak
terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; atau leluasa.
Merdeka berarti bebas dari penjajahan, bebas dari tahanan, bebas dari
kekuasaan, bebas intimidasi, bebas tekanan, dari nilai dan budaya yang
mengungkung diri kita. Setiap manusia yang lahir ke dunia semuanya adalah
mahluk merdeka, para bayi yang terlahir hanya terikat oleh ikatan yang Allah
ridhoi (kondisi fitrah) dalam QS Al A'raaf : 172, bahwa Allah sudah mengambil
perjanjian perikatan dengan manusia ketika dalam sulbi ibunya bahwa manusia
hanya mau terikat dengan Allah, mengakui keberadaan Allah dan siap melaksanakan
semua perintah dan larangan Allah tidak lainnya.





Dalam
konteks ini semua manusia dalam keadaan fitrah, suci, bersih dari perikatan dan
penjajahan apapun, namun setelah dewasa ketika mulai baligh ada manusia yang
kembali fitrah dan ada juga manusia yang tidak fitrah, ia mengambil tandingan
selain Allah. Ia mengikatkan diri dengan segala sesuatu selain Allah. 





Sedangkan
manusia tidak merdeka adalah manusia yang hidupnya dikendalikan oleh dhon,
akalnya sendiri, dogma, hawa nafsu, ilmu, harta dan dien selain Islam. Karena
Islam adalah dien yang membebaskan manusia dari kungkungan hawa nafsu, dan dhon
dan lain-lain. Jadi, kemerdekaan abadi adalah manakala kita melepaskan semua
ikatan dari apapun kecuali hanya dengan Allah. Dalam Qs. Al Balad : 10-13
disebutkan bahwa Allah menunjukkan dua jalan ada benar dan salah, jalan yg
benar merupakan jalan yang mendaki lg sukar, jalan yg mendaki lg sukar salah
satunya adalah memerdekakan budak dari perbudakan. 





Perbudakan dalam tafsir
fizhilal quran, adalah membebaskan budak dari belenggu, ikatan selain Allah .
Sehingga hidup kita hanya menjadi hamba, budak Allah dalam pengabdian berupa
aktivitas, loyalitas semuanya hanya untuk dan karena Allah semata bukan menjadi
budaknya hawa nafsu, budak harta, dogma, doktrin yang selain dari Allah. Karena
sesungguhnya jika seseorang sudah mengikatkan diri dengan segala sesuatu selain
Allah maka ia tidak lagi memiliki jiwa yang merdeka, tapi jiwa terpenjara, hina
tidak bebas, karena telah menjadikan dirinya budaknya syaitan laknatullah.





Kedatangan
Islam ke alam dunia ini membawa pesan dan sifat kemerdekaan. Islam menyeru
manusia supaya membebaskan diri dan pemikiran mereka daripada belenggu jahiliah
dan kemusyrikan terhadap Allah SWT, membebaskan diri daripada perhambaan dan
membebaskan negara daripada cengkraman musuh. Islam dalam arti kata
kesejahteraan, kedamaian dan keamanan semuanya menjurus kepada hakikat
kemerdekaan. Hakikat ini dapat kita lihat semasa perkembangan awal Islam di
mana Rasulullah saw. telah membawa kemakmuran kepada Madinah dan memerdekakan
Mekah dari cengkaman kafir Quraisy. 





Begitu juga perkembangan di zaman Khulafa'
ar-Rasyidin yang banyak memerdekakan negara dari cengkaman kekufuran. Islam
juga yang bersifat merdeka dalam arti kata lain bermaksud bebas daripada keruntuhan
akhlak dan kemurkaan Allah. Lantaran itu, Islam telah berjaya menyelamatkan
manusia dari sistem perhambaan terhadap manusia ataupun hawa nafsu yang
diselaputi oleh syirik, kekufuran, kemungkaran dan kemaksiatan. 





Seorang penyair
Arab yang bernama Ahmad Syauqi berkata dalam syairnya yang mempunyai makna
:"Kekalnya bangsa kerana mulianya akhlak, runtuhnya bangsa kerana
runtuhnya akhlak". Oleh karena itulah hendaknya umat Islam senantiasa
berazam untuk membebaskan diri daripada sifat-sifat yang boleh meruntuhkan
wibawa kemanusiaan karena sifat-sifat demikian itu amat dimurkai Allah dan akan
hanya menyebabkan manusia terpenjara      
di bawah arahan nafsu dan syaitan. Lebih jauh dari itu, kita hendaklah
sentiasa memohon keampunan Allah Ta'ala agar mendapat keridhoan-Nya dan
terlepas daripada siksaan api neraka. Inilah nilai sebenarnya kemerdekaan yang
diajarkan oleh agama kita.


               


Kemerdekaan tidaklah datang dengan sendirinya
ia adalah hasil dari jerih payah dan pengorbanan artinya membicarakan
kemerdekaan tidak terlepas dari apa yang kita sebut dengan pahlawan Menurut
Anis Matta, "Pekerjaan-pekerjaan besar dalam sejarah hanya dapat
diselesaikan oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan". Sejarah
menunjukkan bahwa negeri ini terbebas dari penjajahan disebabkan pula oleh
peran para pahlawan. 





Para pahlawan dahulu ketika berjuang senantiasa
mengedepankan nilai-nilai keberanian, kesabaran, pengorbanan, kompetisi,
optimistis, dan siap sedia dengan segala kemungkinan saat itu. Nilai-nilai
kemanusiaan yang mendasar tetap menjadi basis utama filosofi perjuangan mereka.
Makna kemerdekaan yang ada di kepala para pahlawan saat itu adalah membebaskan
Indonesia dari penindasan dan tirani oleh pihak-pihak yang berusaha
mencengkeram Indonesia untuk kepentingan kekuasaan.





Kemerdekaan
itu telah lama kita raih, peperanganpun telah lama usai. “Ini adalah perang
kecil akan ada lagi  perang yang lebih
besar”. Inilah perkataan yang pernah dilontarkan oleh Rasulullah setelah
menghadapi musuh dalam perang Badar yang dahsyat. Para sahabat saat itu
bertanya: “Akan adakah perang yang lebih besar dari ini?”. Sang Nabi berkata :
“Perang melawan hawa nafsu”.





Setelah
63 tahun merdeka semoga bangsa ini dapat menjadi bangsa yang bersyukur atas
nikmat kemerdekaan yang dititipkan Allah SWT, dengan bersyukur mudah-mudahan
nikmat tersebut akan ditambah oleh-Nya. Wallahu ‘Alam

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ketika Tak Ada Lagi Perang"

Posting Komentar